banner 728x250

Musyawarah mantapkan :Turun Sawah di Desa Dongi, musim tanam – 2, bulan ( April September )2026, Dorong IP 300 dan Antisipasi Hama Sejak Dini

  • Bagikan
oppo_0

SIDRAP – JELAJAHSULSEL.COM –Pada hari ini, Senin, tgl .27-4-2026 telah digelar musyawarah turun sawah yang berlangsung di Aula Kantor Desa Dongi. Kegiatan ini dihadiri oleh berbagai unsur pemerintah dan masyarakat tani guna memperkuat strategi peningkatan produksi pertanian serta ketahanan pangan.

Kepala Desa Dongi, Sulaeman Malle, dalam sambutannya menyampaikan musim tanam – 2 yaitu bulan April September 2026 ,pentingnya penggunaan benih varietas unggul super genjah guna meningkatkan hasil panen. Ia menekankan bahwa langkah ini merupakan bagian dari upaya mencapai indeks pertanaman (IP) 300.

Turut hadir dalam kegiatan tersebut, Camat Pitu Riawa Ali Husain, S.Ip M.si ,Koordinator Penyuluh Pertanian Ahmad Sp, Asrul Sp koordinator penyuluh kementerian,para Penyuluh Pertanian Lapangan (PPL) se-Kecamatan Pitu Riawa, kelompok tani (Poktan), kepala dusun, BPD, serta tokoh masyarakat.

Dalam arahannya, Camat Pitu Riawa menegaskan pentingnya tanam benih secara serentak (tabela) guna mengantisipasi serangan hama tikus. Ia juga mendorong penggunaan varietas super genjah seperti Cakrabuana atau varietas sejenis, sebagai bagian dari program pemerintah untuk mencapai target produksi satu juta ton gabah kering sawah melalui IP 300.

Sementara itu, Ahmad selaku Koordinator Penyuluh Pertanian mengungkapkan bahwa pada tahun 2025 lalu terjadi serangan hama wereng di beberapa wilayah seperti Desa Ajubissu, Otting, dan Dongi. Oleh karena itu, pada tahun 2026 ini diharapkan adanya langkah antisipasi sejak dini terhadap potensi serangan hama wereng maupun tikus.

Salah satu perwakilan kelompok tani menyampaikan bahwa jadwal tanam (tabela) direncanakan mulai tanggal 4 hingga 15 Mei 2026. Selain itu, akan dilaksanakan gerakan pengendalian (gardal) hama tikus secara bersama-sama.

Dari Poktan Botto Ulu 2 juga memberikan masukan teknis agar dalam pelaksanaan tabela, saluran sekunder (sepe-sepe) tidak ditutup sepenuhnya, melainkan dibuka setengah guna menjaga ketersediaan air bagi lahan yang belum melakukan tanam.

Selain itu, dalam forum tersebut juga diusulkan agar dilakukan pemeliharaan jalan tani melalui penimbunan, mengingat kondisi jalan yang berlumpur serta posisi dinding saluran tersier yang lebih tinggi dibandingkan badan jalan, sehingga mengganggu aktivitas petani.

Musyawarah ini diharapkan menjadi langkah strategis dalam meningkatkan produktivitas pertanian serta memperkuat kolaborasi antara pemerintah dan masyarakat dalam menghadapi tantangan sektor pertanian ke depan.(Azis)

banner 325x300
banner 120x600
  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *